Jumat, 25 Januari 2019

JIKA AKU JADI GUBERNUR SUMUT

Berkhayal merupakan suatu pekerjaan yang paling menyenangkan. Senang sekali rasanya kak Meryl Saragih memberikan kesempatan untuk berkhayal. Saya pun telah berkhayal untuk mewujudkan hal berikut “Jika Aku Jadi Gubernur Sumut”.
Nama Saya Novelyna Butarbutar, Umur saya 24 Tahun. Bagi saya Sumut merupakan kota yang sangat potensial dan powerfull dalam berbagai bidang. Letak strategis dan SDA yang begitu potensial merupakan spesialisasi tersendiri bagi Sumut yang tidak dimiliki oleh provinsi ataupun kota lain. Merujuk pada potensi tersebut yang ingin diwujudkan jika aku jadi Gubernur Sumut adalah :
Wadah Aspirasi dan Kreasi anak muda
Kenapa anak muda ?? anak muda merupakan elemen terpenting dalam mendongkrak perekonomian suatu bangsa termasuk regional. Selain sebagai tulang punggung penerus estafet, Anak muda masih memiliki ide gila yang tidak masuk akal dan tentunya menjadi aset terbaik bangsa dalam mewujudkan kemajuan dan mengejar ketertinggalan. Antusiasme luar biasa ini ya harus diberi wadah untuk berkreasi misalnya menyediakan fasilitas di tempat- tempat terbuka, mengadakan event kreasi anak muda baik seni, olahraga, keterampilan maupun budaya. Dan pastinya diharapkan adanya anggaran untuk anak muda dalam berkreasi.
Membangun gerakan membaca dan gila literasi bagi seluruh elemen masyarakat
Yang dipisahkan oleh jarak semesta dapat dipertemukan oleh pustaka ( Anonim ). Melalui gerakan ini maka semua daerah di Sumut baik yang jauh sekalipun akan lebih mudah tersentuh. Dan tentunya kemerataan akan lebih mudah didapatkan sebagai tujuan pemerataan seluruh daerah Sumut. Budaya literasi ini juga sangat berguna dalam pembentukan moral dan karakter di Sumut.
Menciptakan wadah bagi perempuan / legislasi perempuan
Persoalan wanita hanya dapat diselesaikan oleh wanita juga, untuk itu penting adanya kedudukan wanita dalam legislatif yang menjadi agen perubahan wanita. Tanpa disadari peran perempuan akan menjadi pemicu pergerakan masyarakat yang berkesejahteraan sosial dan berkeadilan sosial seperti yang terdapat dalam buku Sarinah wanita dan laki-laki harus sama-sama melebarkan sayap dalam revolusi nasional.
Pengeloaan SDA dan sektor Pariwisata secara maximal khususnya Danau Toba yang memiliki spesialisasi sebagai cikal bakal Geopark Dunia.
Pariwisata merupakan sektor terbesar pendapatan Negara apabila dikelola dengan baik. Kelebihan Sumut memiliki SDA Danau Toba ya seharusnya harus dikelola dengan baik, apalagi direncanakan menjadi cikal bakal Geopark dunia. Perlu dikasih perhatian lebih, mulai dari tata letak dan ruang daerah pantai, kebersihan danau Toba, Sapta Pesona zaman dulu boleh diterapkan sebagai ciri khas, kearifan budaya Lokal, event besar seni budaya seperti Pesta Danau Toba zaman dulu yang sangat menarik, souvanir, SDM dan lain-lain. Mungkin role model nya bisa di lirik dari pesona Pariwisata dari luar Sumut yang lebih baik pengelolaannya.
Belajar dari pengalaman tentunya sangat penting seperti yang dilakukan Bu Risma dari setiap kunjungan yang dilakukannya ke luar daerah. Awalnya Bu Risma terbayang dengan sosok “Deng Xiaoping, si pelopor kebijakan reformasi dan keterbukaan yang berhasil menyulap Cina menjadi semaju sekarang.  Dalam mengejar ketertinggalan dari Jepang  dimana saat itu dialog di TV Bai Yansong – Jurnalis kritis Cina _ memberikan komentar untuk ini : “ Deng Xiaoping barang kali sudah nge fly memikirkan negaranya.” Rupanya benar setelah penjelasan Deng angkat bicara dan mengatakan : “ Cina telah terlalu terbelakang sudah tidak bisa hanya dengan berjalan untuk mengejar ketertinggalan. Kita harus berlari!tegasnya.
Dalam imajinasi penerjemah bu Risma saat melakukan perjalanan ke Xiamen bu Risma berkata begini “ Surabaya tidak bisa hanya dengan berlari, apalagi berjalan. Kita harus terbang!.
Nah demikian pulak imajinasi saya jika konsepnya berimajinasi “ Sumatera Utara tidak cukup dengan Terbang saja, apalagai berlari. Sumatera Utara harus berlari terbang. Bahasa bataknya saking excitednya bilang Lari Marikkati, habang muse. hehehe

Tidak ada komentar:

Posting Komentar