Senin, 28 Januari 2019

Puisi kesendirian

“MERINTIH SENDIRI”

apa kabar senyum ilusiku?
kini serpihan sepi kian merindu
hanya gejolak rasa yang sendu
kenapa ada hati yang mau menunggu
dan masih saja terlihat lucu

kamu tahu, kanvas di hatiku
masih saja ada lukisan wajahmu
dan hanya di persimpangan, rayuanmu
seakan tertawa, padahal tak lucu!

pura-pura menghadirkan tenang
kamu memulai sebuah perang
lalu pergi dan menghilang
kamu pikir menang; bagai letusan gunung
menghadirkan lara yang tak berujung

- Novelyna Febrianti Butarbutar -

Jumat, 25 Januari 2019

JIKA AKU JADI GUBERNUR SUMUT

Berkhayal merupakan suatu pekerjaan yang paling menyenangkan. Senang sekali rasanya kak Meryl Saragih memberikan kesempatan untuk berkhayal. Saya pun telah berkhayal untuk mewujudkan hal berikut “Jika Aku Jadi Gubernur Sumut”.
Nama Saya Novelyna Butarbutar, Umur saya 24 Tahun. Bagi saya Sumut merupakan kota yang sangat potensial dan powerfull dalam berbagai bidang. Letak strategis dan SDA yang begitu potensial merupakan spesialisasi tersendiri bagi Sumut yang tidak dimiliki oleh provinsi ataupun kota lain. Merujuk pada potensi tersebut yang ingin diwujudkan jika aku jadi Gubernur Sumut adalah :
Wadah Aspirasi dan Kreasi anak muda
Kenapa anak muda ?? anak muda merupakan elemen terpenting dalam mendongkrak perekonomian suatu bangsa termasuk regional. Selain sebagai tulang punggung penerus estafet, Anak muda masih memiliki ide gila yang tidak masuk akal dan tentunya menjadi aset terbaik bangsa dalam mewujudkan kemajuan dan mengejar ketertinggalan. Antusiasme luar biasa ini ya harus diberi wadah untuk berkreasi misalnya menyediakan fasilitas di tempat- tempat terbuka, mengadakan event kreasi anak muda baik seni, olahraga, keterampilan maupun budaya. Dan pastinya diharapkan adanya anggaran untuk anak muda dalam berkreasi.
Membangun gerakan membaca dan gila literasi bagi seluruh elemen masyarakat
Yang dipisahkan oleh jarak semesta dapat dipertemukan oleh pustaka ( Anonim ). Melalui gerakan ini maka semua daerah di Sumut baik yang jauh sekalipun akan lebih mudah tersentuh. Dan tentunya kemerataan akan lebih mudah didapatkan sebagai tujuan pemerataan seluruh daerah Sumut. Budaya literasi ini juga sangat berguna dalam pembentukan moral dan karakter di Sumut.
Menciptakan wadah bagi perempuan / legislasi perempuan
Persoalan wanita hanya dapat diselesaikan oleh wanita juga, untuk itu penting adanya kedudukan wanita dalam legislatif yang menjadi agen perubahan wanita. Tanpa disadari peran perempuan akan menjadi pemicu pergerakan masyarakat yang berkesejahteraan sosial dan berkeadilan sosial seperti yang terdapat dalam buku Sarinah wanita dan laki-laki harus sama-sama melebarkan sayap dalam revolusi nasional.
Pengeloaan SDA dan sektor Pariwisata secara maximal khususnya Danau Toba yang memiliki spesialisasi sebagai cikal bakal Geopark Dunia.
Pariwisata merupakan sektor terbesar pendapatan Negara apabila dikelola dengan baik. Kelebihan Sumut memiliki SDA Danau Toba ya seharusnya harus dikelola dengan baik, apalagi direncanakan menjadi cikal bakal Geopark dunia. Perlu dikasih perhatian lebih, mulai dari tata letak dan ruang daerah pantai, kebersihan danau Toba, Sapta Pesona zaman dulu boleh diterapkan sebagai ciri khas, kearifan budaya Lokal, event besar seni budaya seperti Pesta Danau Toba zaman dulu yang sangat menarik, souvanir, SDM dan lain-lain. Mungkin role model nya bisa di lirik dari pesona Pariwisata dari luar Sumut yang lebih baik pengelolaannya.
Belajar dari pengalaman tentunya sangat penting seperti yang dilakukan Bu Risma dari setiap kunjungan yang dilakukannya ke luar daerah. Awalnya Bu Risma terbayang dengan sosok “Deng Xiaoping, si pelopor kebijakan reformasi dan keterbukaan yang berhasil menyulap Cina menjadi semaju sekarang.  Dalam mengejar ketertinggalan dari Jepang  dimana saat itu dialog di TV Bai Yansong – Jurnalis kritis Cina _ memberikan komentar untuk ini : “ Deng Xiaoping barang kali sudah nge fly memikirkan negaranya.” Rupanya benar setelah penjelasan Deng angkat bicara dan mengatakan : “ Cina telah terlalu terbelakang sudah tidak bisa hanya dengan berjalan untuk mengejar ketertinggalan. Kita harus berlari!tegasnya.
Dalam imajinasi penerjemah bu Risma saat melakukan perjalanan ke Xiamen bu Risma berkata begini “ Surabaya tidak bisa hanya dengan berlari, apalagi berjalan. Kita harus terbang!.
Nah demikian pulak imajinasi saya jika konsepnya berimajinasi “ Sumatera Utara tidak cukup dengan Terbang saja, apalagai berlari. Sumatera Utara harus berlari terbang. Bahasa bataknya saking excitednya bilang Lari Marikkati, habang muse. hehehe

Ada apa dengan prostitusi

ADA APA DENGAN PROSTITUSI ⁣

OLEH : Novelyna Butarbutar⁣
       Prostitusi sering disebut juga lokalisasi yang dikelola dibawah pemerintahan daerah. Dan tentu saja rumah bordir sudah hal yang lazim kita dengar. Hal itu terjadi untuk menghindari adanya kelakuan prostitusi di sembarang tempat. Di Indonesia prostitusi dianggap sebagai kejahatan terhadap kesusilaan/moral dan melawan hukum. ⁣
Menurut Unicef bahwa 30 % pelaku prostitusi perempuan di indonesia adalah wanita berusia 18-30 tahun. Bahkan sering dijadikan sebagai wahana wisata seks anak khususnya yang terjadi di pulau resor besar seperti Batam dan Bali. ⁣
Nah selain Rumah bordir muncul fenomena baru yaitu prostitusi online. Dalam hal ini mungkin yang sedang disoroti adalah VA, meskipun banyak juga artis lain yang terseret dalam kasus ini.⁣
Fenomena prostitusi sering di generalisasi kaum awam dari berbagai cakupan kasus seperti :⁣
Pernah mengalami pelecehan baik sewaktu kecil, remaja, bahkan dewasa⁣
Kebutuhan ekonomi⁣
Petualangan seks sebagai kebutuhan biologis⁣
Hak perlindungan istri dalam hal ini menikah siri⁣
Memenuhi gaya hidup⁣
Nah untuk itu banyak orang terjun ke dunia prostitusi termasuk artis, dalam hal VA dan yang lainnya. Prostitusi sering dijadikan sebagai dekriminalisasi sehingga muncul anggapan, “Ya sudahlah, saya sudah seperti ini jadi tidak masalah jika saya menjadi pelaku tuna asusila yang sering disebut PSK”. Selain itu ada wadah dan sarana dari mucikari yang mengeruk keuntungan dan menjadikan bisnis dari sini. Dan yang paling fatal adanya kapitalisasi imaji memper kuat wanita artis pun terjun dan terseret menjadi pelaku tuna asusila.⁣
Tanpa sadar perempuan sudah diperbudak baik secara sadar maupun terpaksa atau bahkan sukarela. Memang benar tidak ada yang membenarkan prostitusi secara kita tinggal di daerah yang budayanya menyangkal semua tindak asusila, bahkan pakaian, status sosial, profesi dan kelakuan sosial, so kewajiban kita untuk taat pada crime against morality.⁣
Akan tetapi, seharusnya fenomena pidana untuk case ini harus lah diperhatikan dari konteks pendekatan gender, pendekatan korban dan bukan hanya dari sisi pidana nya saja.⁣
Dan seharusnya yang patut di kriminalkan adalah Mucikari dan Konsumen dan yang menjadi PSK dibebaskan. Kalau benar untuk pencegahan KUHP efek jera prostitusi ya harus fair dong.⁣
Prinsip pencegahan KUHP mengatakan “ tidak ada   mucikari, pelacuran juga tidak ada”. Lalu yang salah siapa ?? saya bilang Mucikari karena dia melakukan tindakan perbantuan dan konsumen menikmati.⁣
Yang harus dilakukan sebenarnya langkah abolisionis, berupa kampanye kesadaran dan efek jera bagi pelaku tuna asusila. Dimana faktanya, sebenarnya mereka gak sadar apa yang telah dilakukannya, dan kenapa itu terjadi kepada mereka. Kenapa mereka jadi PSK, kenapa mereka mengikuti kata mucikari dan bla bla bla. Seringkali mereka aware setelah keluar dari prostitusi, “ oh ternyata aku dulu seperti ini karena ini dan udah pengen keluar tapi tidak bisa karena adanya ancaman kejam dan lain-lain. Jadi kalau udah basah, berenang aja sekalian, begitu yang sering terjadi.⁣
Dan untuk beberapa yang telah sadar dari tingkah lakunya seperti pengakuan “VALISCE Feminis Australia mantan pelaku PSK mereka sudah ingin terbebas dari hal tersebut. Dan dia juga mengkampanyekan supaya pelaku yang sama sepertinya bisa keluar dan jera melalui terapi emosi, fisik seksual tidak sehat, membuka suara wanita yang telah dibungkam dan memberi tahu akan dampak yang dilakukannya melalui edukasi dan yang lain. Gak ada loh yang mau dianggap sebagai PSK.⁣
Dekriminasi  juga telah menghadirkan stigma PSK bukanlah hal terburuk malah dianggap pekerjaan biasa, jadi tidak masalah. Dan seharusnya untuk efek jera masyarakat yang sudah teredukasi misalnya seperti kita ya harus melakukan penerimaan terhadap mereka, bukan menghujat dan melakukan perlawanan.⁣
Ada seseorang nama anonim yang sedang berusaha keluar dari dunia prostitusi dan bergabung di masyarakat, malah dianggap buruk masyarakat, mungkin dengan berkata “ Lonte itu, jaga suamimu”. Kemudian dia pindah ketempat lain malah ada   yang menawarkan pekerjaan serupa yang telah dihindarinya. Dia berkata, mungkin di jidatku ada tulisan dan label pelacur kali ya. Kemudian dia tidak tahan dan kembali lagi ketempat dimana tidak ada yang mempermasalahkan masa lalu dan pekerjaannya. Ya ketempat yang sama, efek jera pun tidak ditemukan dan tidak ada solusi.⁣
Mungkin kampanye valisce boleh kita coba dan melakukan penerimaan. ⁣